Selasa, 19 Agustus 2008

UN UNTUK MENGHARUMKAN NAMA SEKOLAH

UPAYA PEMERINTAH MENINGKATKAN STANDARD KELULUSAN
"Rasanya capek, jenuh tiap hari dikasih soal-soal pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional," demikian ungkapan perasaan Qorina Ihsana, siswa SMA 24 Jakarta Pusat tentang tambahan waktu belajar menjelang Ujian Nasional nanti, Senin (14/4). Sumber: Kompas.
Ungkapan diatas tampaknya dapat menjadi salah satu gambaran beban berat yang ditanggung para siswa yang akan menghadapi UN. Betapa tidak, tingginya standard kelulusan dan makin banyaknya pelajaran dalam UN pun semakin menambah beban psikologis mereka. Dibalik lelah dan bosannya mereka menghadapi soal-soal latihan UN, mau-tidak mau mereka tetap harus melakukannya. Pabila tidak, bukan tidak mungkin, keinginan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi harus menunggu tahun berikutnya. Kembali mengikuti UN. Bayangkan, betapa berat beban yang ditanggung siswa.

Dalam keseharian kurikulum pendidikan di Indonesia memang ‘membiasakan’ anak-anak dijejali dengan semua pelajaran. Sekolah umum memang begitu adanya. Semua anak diberikan berbagai mata pelajaran. Hal ini memang baik untuk memberi keluasan pengetahuan bagi anak didik. Namun, perlu dimengerti pula dampak negatif dibalik itu. Jejalan berbagai mata pelajaran bukan tidak mungkin membuat anak didik menjadi stres, bahkan malas sekolah. Mereka menganggap sekolah tidak lebih dari ‘penjara’ atau hantu yang mematikan kreativitas mereka. Taraf-taraf kemampuan yang dikuasai anak didik dipasung dalam kurikulum yang harus semua mereka terima. Bukankah lebih baik apabila ada penjurusan bagi anak-anak sedari dini? Model penjurusan (IPA, IPS, atau bahasa) di tingkat SLTA tampaknya terlambat. Anak-anak terlampau lama dijejali banyak pelajaran. BANYAK PELAJARAN YANG HARUS MEREKA TELAN ‘MENTAH-MENTAH’ tanpa tahu secara mendalam. Itulah dampak samping pembelajaran umum.

Menghadapi UN pun bukan saja beban berat bagi para siswa. Guru dan pihak sekolah pun dihadapkan pada beban kelulusan anak-anak didik mereka. Bisa dilihat, realita sekolah yang tidak sanggup menghadapi UN.

Secara langsung atau tidak, jumlah siswa yang berhasil lulus atau banyaknya siswa tidak lulus menjadi catatan tersendiri bagi pihak sekolah. Bukan tidak mungkin, sekolah yang jumlah anak didiknya dominan tidak lulus akan kehilangan ‘kepercayaan’ dari para orang tua murid untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah tersebut. Jadi tidak salah pula, keberhasilan anak didik mereka lulus merupakan ‘HARGA MATI’ menjaga nama baik sekolah.

Tidak ada komentar: